Friday, April 6, 2012

Kembara Mencari Hakikat

Selalu, ada kegelisahan yang mengusik kalbu. Menjadi energi pencarian melelahkan sepanjang hidup hingga bersua dengan ketenangan dan kedamaian yang didamba.
Meski jalan mendaki terjal dan lembah menurun yang tak ramah, ia terus mencari. Meski badai datang, kemarau kerontang, laut membentang dan gunung menjulang menghalangi, ia tak peduli. Rasa itu meronta-ronta di dasar jiwa.

Sebab ada satu kebutuhan di dalam kalbu yang tak bisa dipenuhi siapapun kecuali oleh Allah. Sebab ada semangat pengabdian yang tak jua terpuaskan kecuali jika ia kepada Allah dipersembahkan. Juga sebab ada suatu penyakit yang selain Allah takkan pernah bisa menyembuhkan.

Bahkan semua prestasi duniawi yang palsu, segala keunikan materi yang semu, serta seluruh fasilitas yang tak jua membuat kita puas, hanya akan mengehempaskan jiwa kita dalam kehampaan hidup. Wahai, apa lagi yang kurang hingga jiwa ini terasa begitu gersang?

Jiwa kita memang mencari hakikat. Dan ia selalu mencari dan mencari, agar kebutuhannya terpenuhi, pengabdiannya tersalurkan, dan penyakitnya tersembuhkan. Hingga saat raga kita bersuka ria dengan semua nikmat, ia akan tetap menggugat apa yang kita dapat. Jika kita mendengar, sesungguhnya ia tengah mengiba dan memohon, sebab ia sangat tersiksa. Bukankah memang bukan semua ini yang ia cari?

Dengan demikian, bersua dengan Allah dalam hidup adalah anugerah terindah baginya. Membuatnya merasa nyaman dan tenang sebab telah berakhir semua pengembaraan. Mengistirahatkan semua ragu dan bimbang yang menggelisahkan sebab ia telah berjumpa dengan keyakinan. Hal yang akan membuatnya merasai hidup yang berbeda, sebab ia telah menemukan intisarinya. Menemukan esensinya. Kini saatnya mengabdi, bukan lagi mencari. Akhirnya, hidupnya pun akan berbeda dengan manusia-manusia ingkar tak beriman.

Bukankah untuk semua inilah manusia diciptakan, surga dan neraka diadakan, para nabi diutuskan, serta kitab-kitab suci diturunkan? Lalu bagaimana mungkin antara dua golongan ini akan kita samakan? Subhanallah!

Mengabdi kepada Allah adalah nikmat terhebat yang tak pernah ada. Ia akan menenggelamkan semua kenikmatan yang ada. Hingga bersamanya tanpa secuilpun nikmat dunia sudah cukup menjadi ganjaran bagi jiwa. Dan kehilangannya dalam limpahan nikmat dunia, sudah cukup menjadi azab dan siksa baginya.

Maka, merugilah hamba yang tidak sempat merasai hidangan terlezat ini sampai mati. Meninggalkan dunia dan masih saja terus mencari. Tapi, kemana lagi?


Source: ar-risalah,  2007

No comments:

Post a Comment